Pedoman dakwah, moral, hukum, Pemaaf, lapang dada, akhlak manusia, Riwayat Bukhari Muslim, prinsip agama Islam, budi pekerti manusia, Tafsir Ibn Katsir, berbuat baik, ajaran agama Islam, Dalam Al-Quran, berpegang teguh Al-Quran dan Sunnah, berlindung kepada Allah, godaan setan, orang yang bertakwa, orang yang beriman, tipu muslihat setan, Senjata yang paling ampuh mengusir setan, panduan dakwah islam, dakwah, dakwah islam, dakwah rasulullah di madinah, dakwah adalah, dakwah rasulullah, dakwah nabi muhammad, dakwah agama islam, dakwah ceramah, dakwah download, dakwah di madinah, dakwah dalam islam, dakwah nabi, dakwah quran, dakwah remaja, dakwah tentang sabar, dakwah tauhid, dakwah wat tabligh, contoh dakwah, dakwah yang benar, akhlak yang baik, akhlak mulia,
Tentunya sebelum menyampaikan dakwah, terlebih dahulu Da'i itu seyogyanya memberikan contoh akhlak yang baik, sebelum menyuruh orang untuk berbuat baik. Sehingga dengan demikian, orang akan menilai dan mengikuti anjuran Sang Da'i.
Semua Muslim mempunyai hak dan tanggung jawab untuk berdakwah, walaupun untuk lingkup yang kecil, contohnya dalam lingkup keluarga. Suami berdakwah kepada istri dan anak-anaknya, Sang istri pun boleh menasehati suami maupun mendakwahi anak-anaknya.
Ada 3 Prinsip / pedoman yang paling mendasar dalam berdakwah, yang mana ini adalah Firman Allah SWT melalui Al Qur'an, yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, dan untuk dipahami serta di amalkan oleh kita, umat Rasulullah.
3 Pedoman Dasar Dakwah Islam Menurut Al Quran ini tertuang dalam Q.S Al A'raaf : 199, yaitu :
(199) Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.
Dalam ayat ini Allah memerintahkan Rasul-Nya, agar berpegang teguh pada prinsip umum tentang moral dan hukum, serta Pedoman dasar dalam berdakwah, yaitu :
Allah swt menyuruh Rasul-Nya agar beliau memaafkan dan berlapang terhadap perbuatan, tingkah laku dan akhlak manusia. Dan janganlah beliau SAW meminta dari manusia apa yang sangat sukar bagi mereka sehingga mereka lari dari agama.
Sabda Rasullah SAW:
"Mudahkanlah, jangan kamu persulit dan berilah kegembiraan, jangan kamu susahkan".
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa dan Muadz)
Termasuk prinsip agama Islam adalah memudahkan, menjauhkan kesukaran dan segala hal yang menyusahkan manusia. Demikian pula halnya dalam bidang budi pekerti manusia banyak dipengaruhi lingkungannya.
Bahkan banyak riwayat menyatakan bahwa yang dikehendaki pemaafan di sini ialah pemaafan dalam bidang akhlak atau budi pekerti ( Tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir ayat tersebut )
Rasulullah SAW berkata sehubungan dengan ayat ini:
"Apakah ini ya Jibril? " Jawab Jibril, "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kamu agar memaafkan orang yang berbuat aniaya terhadapmu, memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadamu dan menyambung hubungan kepada orang yang memutuskannya."
(Riwayat Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim, dari Ibn Ubay dari bapaknya)
Pengertian 'urf pada ayat ini adalah ma'ruf. Adapun Ma'ruf adalah adat kebiasaan masyarakat yang baik, yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam.
Dalam Al Qur'an kata "maruf" dipergunakan dalam hubungan hukum-hukum yang penting, seperti dalam hukum pemerintahan, hukum perkawinan.
Dalam pengertian kemasyarakatan kata "ma'ruf" dipergunakan dalam arti adat kebiasaan dan muamalah dalam suatu masyarakat. Karena itu kata ma'ruf bisa berbeda-beda sesuai dengan perbedaan bangsa, negara, dan waktu.
Di antara para ulama ada yang memberikan definisi "ma'ruf" dengan apa yang dipandang baik melakukannya menurut tabiat manusia yang murni, tidak berlawanan dengan akal pikiran yang sehat.
Bagi kaum Muslimin, yang pokok ialah berpegang teguh pada nash-nash yang kuat dari Al Qur'an dan Sunnah. Kemudian mengindahkan adat kebiasaan dan norma yang hidup dalam masyarakat selama tidak bertentangan dengan nash agama secara jelas.
Yang dimaksud dengan orang jahil ialah orang yang selalu bersikap kasar dan menimbulkan gangguan-gangguan terhadap para Nabi (ataupun Da'i penerus tugas dakwah Nabi - Red) dan tidak dapat disadarkan.
Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya, agar menghindarkan diri dari orang-orang jahil, tidak melayani mereka, dan tidak membalas kekerasan mereka dengan kekerasan pula.
Semoga Allah SWT merakhmati para Da'i, Kyai, Ustadz dan orang-orang Shalih yang mensyi'arkan agama Allah ini. Aamiin Yaa Rabbal 'alamiin...
Artikel ini bermanfaat ?
Silahkan BAGIKAN di sosmed, agar teman-teman Anda bisa membacanya, dan tanpa sadar Anda juga ikut berdakwah. BarakAllahu lii wa lakum...
Gambar hanya ilustrasi
Dakwah, sesuatu yang mudah di ucapkan namun sangat berat di jalani. Apalagi itu berkaitan dengan akhlak dan perilaku dari penyampai dakwah itu sendiri. Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis aqidah, syari'at dan akhlak Islam.
Tentunya sebelum menyampaikan dakwah, terlebih dahulu Da'i itu seyogyanya memberikan contoh akhlak yang baik, sebelum menyuruh orang untuk berbuat baik. Sehingga dengan demikian, orang akan menilai dan mengikuti anjuran Sang Da'i.
Artikel terkait : 50 Akhlak Mulia dalam Islam
Semua Muslim mempunyai hak dan tanggung jawab untuk berdakwah, walaupun untuk lingkup yang kecil, contohnya dalam lingkup keluarga. Suami berdakwah kepada istri dan anak-anaknya, Sang istri pun boleh menasehati suami maupun mendakwahi anak-anaknya.
Ada 3 Prinsip / pedoman yang paling mendasar dalam berdakwah, yang mana ini adalah Firman Allah SWT melalui Al Qur'an, yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, dan untuk dipahami serta di amalkan oleh kita, umat Rasulullah.
3 Pedoman Dasar Dakwah Islam Menurut Al Quran ini tertuang dalam Q.S Al A'raaf : 199, yaitu :
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
(199) Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.
Dalam ayat ini Allah memerintahkan Rasul-Nya, agar berpegang teguh pada prinsip umum tentang moral dan hukum, serta Pedoman dasar dalam berdakwah, yaitu :
1. Memiliki sifat Pemaaf dan berlapang dada
Allah swt menyuruh Rasul-Nya agar beliau memaafkan dan berlapang terhadap perbuatan, tingkah laku dan akhlak manusia. Dan janganlah beliau SAW meminta dari manusia apa yang sangat sukar bagi mereka sehingga mereka lari dari agama.
Sabda Rasullah SAW:
"Mudahkanlah, jangan kamu persulit dan berilah kegembiraan, jangan kamu susahkan".
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa dan Muadz)
Termasuk prinsip agama Islam adalah memudahkan, menjauhkan kesukaran dan segala hal yang menyusahkan manusia. Demikian pula halnya dalam bidang budi pekerti manusia banyak dipengaruhi lingkungannya.
Bahkan banyak riwayat menyatakan bahwa yang dikehendaki pemaafan di sini ialah pemaafan dalam bidang akhlak atau budi pekerti ( Tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir ayat tersebut )
Rasulullah SAW berkata sehubungan dengan ayat ini:
"Apakah ini ya Jibril? " Jawab Jibril, "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kamu agar memaafkan orang yang berbuat aniaya terhadapmu, memberi kepada orang yang tidak mau memberi kepadamu dan menyambung hubungan kepada orang yang memutuskannya."
(Riwayat Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim, dari Ibn Ubay dari bapaknya)
2. Menyuruh manusia berbuat ma'ruf ( berbuat baik )
Pengertian 'urf pada ayat ini adalah ma'ruf. Adapun Ma'ruf adalah adat kebiasaan masyarakat yang baik, yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam.
Dalam Al Qur'an kata "maruf" dipergunakan dalam hubungan hukum-hukum yang penting, seperti dalam hukum pemerintahan, hukum perkawinan.
Dalam pengertian kemasyarakatan kata "ma'ruf" dipergunakan dalam arti adat kebiasaan dan muamalah dalam suatu masyarakat. Karena itu kata ma'ruf bisa berbeda-beda sesuai dengan perbedaan bangsa, negara, dan waktu.
Di antara para ulama ada yang memberikan definisi "ma'ruf" dengan apa yang dipandang baik melakukannya menurut tabiat manusia yang murni, tidak berlawanan dengan akal pikiran yang sehat.
Bagi kaum Muslimin, yang pokok ialah berpegang teguh pada nash-nash yang kuat dari Al Qur'an dan Sunnah. Kemudian mengindahkan adat kebiasaan dan norma yang hidup dalam masyarakat selama tidak bertentangan dengan nash agama secara jelas.
3. Tidak mempedulikan gangguan orang jahil
Yang dimaksud dengan orang jahil ialah orang yang selalu bersikap kasar dan menimbulkan gangguan-gangguan terhadap para Nabi (ataupun Da'i penerus tugas dakwah Nabi - Red) dan tidak dapat disadarkan.
Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya, agar menghindarkan diri dari orang-orang jahil, tidak melayani mereka, dan tidak membalas kekerasan mereka dengan kekerasan pula.
Semoga Allah SWT merakhmati para Da'i, Kyai, Ustadz dan orang-orang Shalih yang mensyi'arkan agama Allah ini. Aamiin Yaa Rabbal 'alamiin...
Artikel ini bermanfaat ?
Silahkan BAGIKAN di sosmed, agar teman-teman Anda bisa membacanya, dan tanpa sadar Anda juga ikut berdakwah. BarakAllahu lii wa lakum...

EmoticonEmoticon